Saya adalah fans berat dari burung ini. Tampilannya yang garang, gagah, kokoh dan terkesan galak benar-benar mencerminkan karakter laki-laki. Burung dengan ciri khas ekor super panjang dengan suara kicauannya yang khas plus power yang kuat menjadi ciri utama burung ini. Tidak heran bila di setiap kontes burung, murai batu tidak pernah absen kita jumpai di dalam perlombaan. Saking terkenalnya burung ini, bahkan beberapa penagkar mencoba untuk membudidayakannya. Hasilnya ada yang berhasil, setengah berhasil, atau bahkan ada yang sudah berbulan-bulan namun tidak menghasilkan apa-apa. Menangkar burung-burung berkarakter karnivora/ pemakan daging memang sedikit lebih sulit dibandingkan membudidayakan burung-burung pemakan biji-bijian. Tidak terkecuali juga murai batu.
Bagi penagkar pemula, yang memiliki mental instan, biasanya mereka akan menyerah di tengah jalan bila menemui sesuatu yang menyusahkan dan kelihatannya akan berlangsung lama. Kemudian banting stir lagi ke jenis yang lain dan begitu seterusnya. Namun bagi penangkar yang sudah senior, biasanya mereka akan tetap sabar menunggu. Mereka benar-benar menghargai yang namanya proses. Dan ketika proses itu menghasilkan, ada kepuasan tersendiri yang benar-benar melegakan.
Saya termasuk pemula (instaner)? Anda bagaimana? Semoga Anda tidak mengikuti jejak saya :D.
Oke, kita langsung saja ke bahasan. Lalu bagaimana kita bisa membuat murai batu mau bertelur dalam sangkar?
Mari saya tuntun ke langkah-langkah berikut! Intinya cuma sabar, tidak perlu terburu-buru. Belanda masih jauh!!!
Langkah pertama tentu Anda harus menyiapkan indukan jantan dan betina.
Indukan bisa anda dapatkan dengan membeli di penangkar (recomended) atau membeli di pasar-pasar burung terdekat di kota Anda. Ada dua jenis Murai yang sekarang lagi trend. Murai Borneo (kalimantan) dan Murai Medan. Yang disebutkan terakhir nampaknya masih menjadi favorit kicau mania. Calon indukan jantan usahakan sudah berumur 2 tahun atau untuk lebih maksimalnya 2,5 tahun. Untuk indukan betina, diatas 1 - 1,5 tahun dirasa sudah matang dan siap produksi. Murai Batu siap produksi biasanya dibanderol 2-5 jutaan per pasang.
Selanjutnya adalah menyiapkan kandang untuk perkawinan kedua induk, jantan dan betina.
Anda tidak perlu menyiapkan kubah raksasa untuk membuat Murai Batu mau bersarang seperti di alam liar. Cukup sediakan ruang 100x100 cm dan tinggi sekitar 200 cm (2 meter-an), burung Murai Batu pun siap bertelur di dalamnya. Disetiap sisinya bisa Anda beri kawat sebagai penutup. Untuk alas usahakan biarkan tetap alami (tanah) dengan diberi sedikit tambahan pasir. Beri juga tempat angkringan untuk hinggap dan tidur burung. Usahakan pilih kayu yang kering dan keras (cth. kayu asem).
Langkah berikutnya, menjodohkan Murai Batu.
Ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Kenapa saya bilang paling menyenangkan? Karena kalau saya bilang susah, biasanya Anda langsung pasang muka kusut dan gak lanjut baca :D. Tapi percaya sama saya. Bagian ini benar-benar bagian yang paling menyenangkan dari semua kegiatan penangkaran Murai Batu. Seninya tuh disini!!!
Langsung saja saya bagi rahasianya. Intinya tadi apa? SABAR!!
1. Pastikan kalau kedua indukan benar-benar siap produksi.
2. Ketika indukan datang, jangan langsung dimasukkan menjadi satu kandang. Kecuali memang belinya sudah jadi pasangan. Kalau begitu kasusnya, sah-sah saja kalau indukan langsung disatukan. Biasanya cuma butuh waktu beberapa hari bagi pasangan Murai Batu untuk membiasakan diri dengan kandang baru. Kalau bisa, angkringan lama (angkringan di tempat sebelumnya) pasang ke kandang baru untuk mempercepat proses adaptasi.
3. Full kerodong ketika proses perkenalan/ perjodohan berlangsung!
4. Pisahkan jantan-betina dengan jarak kurang lebih 7 meter. Burung jantan yang birahi biasanya akan gacor ketika mendengar ada burung lain (betina) di sekitarnya. Biarkan seperti ini hingga kurang lebih 2 hari.
5. Semakin lama jarak semakin dipersempit menjadi 5 dan 3 meter sampai sekitar hari ke-6, sangkar ditempelkan tanpa jarak, namun tetap dalam kondisi dikerodong! Biasanya dalam kondisi seperti ini, jantan akan semakin menggila.
6. Hari ke-7 jarak dibuat 0,5 meter antara jantan dan betina. Beri extra-fooding (ef) berupa jankgrik di kandang jantan. Tanda-tanda keberhasilan adalah si jantan biasanya mencoba menyuapi betina dengan mencoba menjulur-julurkan jangkrik ke arah betina. Begitu juga dengan betina. Si betina akan mencoba menggapai jangkrik yang ditawarkan oleh si jantan.
7. Hari ke-8, indukan jantan dan betina bisa dipindahkan ke kandang besar. Jika berhasil biasanya mereka akan saling akur dan tidak terjadi aksi kejar-mengejar. Jika sudah begini tinggal nunggu Murai Batu segera kawin. Namun jika masih bertengkar, kejar-kejaran, terutama jantan yang biasanya lebih agresif, maka segera pisah dan ulangi langkah-langkah di atas sampai dua-duanya benar-benar berjodoh (SABAR!!!).
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah sediakan tempat sarang lebih dari satu tempat sarang. Biar nanti murai batu sendiri yang menentukan, dimana dia mau bertelur.
Ketika Murai Batu mulai bertelur, perhatikan asupan makanannya. Berikan porsi jangkrik dan kroto 2 kali lipat dari biasanya. Murai Batu akan bertelur 3-4 butir. Dan dalam 14 hari telur-telur itu akan menetas kemudian mulai diasuh oleh induknya. Setelah anakan berumur 2 mingguan, Anda bisa menentukan mau Anda asuh sendiri agar indukan cepat berproduksi lagi atau tetap diasuh oleh induk dengan konsekwensi waktu reproduksi yang cukup lama. Semuanya terserah pada anda!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar